Menyaksikan dinamika sosial dan politik hari ini, media sosial kita tidak pernah sepi dari riuh rendah kritik terhadap pemerintah. Mengkritik itu tentu saja boleh, bahkan sah-sah saja dalam iklim demokrasi. Kritik adalah alarm yang menjaga agar pembuat kebijakan tidak terlena. Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama: apakah kritik kita hanya berhenti sebagai polusi suara, atau justru hadir sebagai solusi nyata?

Jika kita membedah fenomena ini menggunakan kacamata statistik—khususnya konsep percentiles (persentil)—kita akan menemukan sebuah analogi yang menarik tentang kualitas dari kritik itu sendiri.

Dalam dunia statistik, persentil adalah ukuran yang membagi data yang telah diurutkan menjadi 100 bagian yang sama besar. Persentil menunjukkan di mana posisi suatu nilai relatif terhadap keseluruhan kelompok. Jika kita mengurutkan seluruh kritik yang masuk ke ruang publik dari yang paling destruktif hingga yang paling solutif, kita bisa memetakan “kualitas kritik” masyarakat ke dalam sebaran persentil ini.

Di persentil bawah (misalnya di bawah Persentil ke-25 atau P{25}), kita akan menemukan tumpukan kritik yang isinya hanya makian, nyinyiran tanpa data, atau sekadar luapan emosi karena polarisasi politik masa lalu. Kritik di area ini sangat berisik, namun memiliki nilai kegunaan yang mendekati nol. Ini adalah jenis kritik yang “merusuhi” tanpa memberikan arah perbaikan.

Naik ke persentil menengah (sekitar P{50} atau Median), kita mendapati kritik yang sudah berbasis data. Kritik di level ini mampu menunjukkan dengan tepat di mana letak kesalahan atau kelemahan sebuah kebijakan. Namun sayang, kritik di persentil ke-50 ini sering kali mandek. Mereka jago mendiagnosis penyakit, tetapi tidak membawa obatnya. Mengatakan “angka kemiskinan naik” atau “kebijakan ini salah” tanpa menawarkan alternatif rute adalah kritik yang baru menyelesaikan setengah pekerjaan.

Nah, di manakah letak kritik yang ideal? Jawabannya ada di persentil atas (di atas Persentil ke-90 atau P{90}).

Kritik di level $P_{90}$ ke atas adalah kelangkaan (outliers) yang sangat berharga. Mereka tidak hanya datang dengan membawa data kerusakan, tetapi juga membawa cetak biru (blueprint) perbaikan. Kritik di persentil atas ini selalu menyertakan kalimat: “Kebijakan ini memiliki celah di poin A, oleh karena itu hendaknya kita mengambil solusi alternatif B dengan mitigasi risiko C.”

Ketika kita mengkritik dengan orientasi solusi, kita sedang menaikkan nilai persentil diri kita sebagai warga negara yang cerdas. Kita tidak lagi menjadi bagian dari “pencakar langit data” yang hanya menambah beban kebisingan, melainkan menjadi pemikir yang membantu pemerintah melihat titik buta (blind spot) yang terlewatkan.

Presiden dan jajaran pemerintahannya jelas bukan manusia super yang maksum dari salah. Mereka butuh dikritik. Namun, agar kritik kita tidak sekadar menjadi noise (gangguan) dalam analisis statistik negara, melainkan menjadi signal (petunjuk) yang mengarahkan pada perbaikan, mari kita naikkan kelas kritik kita.

Kurangi makian, perbanyak kajian. Karena pada akhirnya, perubahan bangsa ini tidak ditentukan oleh seberapa keras kita berteriak di persentil bawah, melainkan seberapa aplikatif solusi yang kita tawarkan di persentil atas. Jadi, di persentil mana posisi kritikmu hari ini?

One Thought to “Mengkritik Itu Sah, Tapi di Persentil Mana Solusimu? (sebuah pelajaran statistik)”

  1. Muhammad Dalim

    Setuju pak, sebaiknya kalau kita mengkritik itu disertai dengan data, dan memberikan solusi dari yang kita kritik, apa ide dan gagasan kita dituangkan dalam kritik tersebut, kalau pemerintah menganggap solusi yang kita berikan itu bisa memberikan pemecahan masalah, maka value kita sebagai anggota masyarakat akan meningkat.

Leave a Comment