Bagi pencinta sinema klasik, kutipan dari film Annie Hall (1977) karya Woody Allen tentu sudah tidak asing lagi: “Those who can’t do, teach. And those who can’t teach, teach gym.” (Mereka yang tidak bisa melakukan, mengajar. Dan mereka yang tidak bisa mengajar, mengajar olahraga/gym).

Secara sekilas, kalimat ini adalah lelucon komedi yang sangat cerdas sekaligus sinis. Woody Allen berhasil memotret sebuah stereotipe sosial yang memandang rendah profesi pengajar—seolah-olah dunia pendidikan hanyalah tempat pelarian bagi orang-orang yang gagal bersaing di dunia industri praktis. Namun, jika kita mengikis lapisan humor tersebut, kita akan menemukan sebuah ironi getir yang hari ini masih menjadi kenyataan pahit: rendahnya penghargaan finansial bagi mereka yang mentransfer ilmu dan kesehatan.

Di Indonesia dan banyak belahan dunia lainnya, keluhan mengenai kecilnya gaji tenaga pengajar, guru honorer, hingga instruktur gym bukanlah rahasia lagi. Kita berada di dalam struktur masyarakat yang aneh: kita sepakat bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan bangsa, dan kesehatan adalah modal utama kehidupan. Namun, pada saat yang sama, kita justru memberikan kompensasi yang paling minim kepada orang-orang yang menjaga kedua pilar tersebut.

Padahal, kenyataannya jauh dari apa yang disindir oleh Allen. Mengajar adalah sebuah aktivitas yang sangat sulit dikerjakan apabila tidak dilandasi oleh rasa ikhlas, senang hati, atau panggilan jiwa. Menghadapi ratusan kepala dengan karakter yang berbeda setiap hari memerlukan tingkat kesabaran yang luar biasa. Jika niatnya sekadar mencari tumpukan materi atau sekadar profesi batu loncatan, seseorang pasti akan cepat menyerah dan merasa frustrasi.

Oleh karena itu, mengajar sejatinya adalah sebuah panggilan jiwa, bukan sekadar profesi untuk mencari nafkah. Di sinilah letak keindahan yang tidak bisa diukur oleh angka-angka di atas kertas kontrak. Ketika para guru atau instruktur gym sudah mengabdi dengan ikhlas dan menganggap tugas mereka sebagai sebuah panggilan jiwa, ada sebuah keyakinan spiritual yang bekerja. Mereka percaya bahwa rezeki tidak selamanya berupa gaji bulanan. Bentuk rezeki dari Yang Maha Kuasa itu sangat luas—bisa berupa kesehatan yang terjaga, keluarga yang harmonis, anak-anak yang saleh, ketenangan batin, hingga rasa hormat dan doa tulus dari para murid yang ilmunya bermanfaat. Jaminan rezeki non-materi inilah yang sering kali membuat para pengajar tetap bertahan dan tersenyum meski dalam keterbatasan.

Namun, keyakinan spiritual para pengajar ini tentu tidak boleh dijadikan alasan bagi masyarakat atau pemangku kebijakan untuk abai. Sarkasme Woody Allen secara tidak sengaja menelanjangi sistem kapitalisme modern: kita membayar mahal untuk hasil akhir (seperti produk teknologi atau tubuh yang sudah kekar), tetapi kita sangat pelit membayar proses pembuatannya (edukasi dan pelatihan).

Kutipan Annie Hall mungkin akan tetap memancing tawa di layar lebar. Namun di dunia nyata, tawa itu terasa hambar ketika kita melihat seorang guru harus menyambi menjadi pengemudi ojek online, atau seorang instruktur gym yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya. Sudah saatnya satir ini dihentikan dengan memberikan kesejahteraan yang layak secara manusiawi bagi mereka yang telah menyerahkan jiwa dan keikhlasannya untuk mencerdaskan serta menyehatkan bangsa.

Leave a Comment