Kalau kamu sering menonton pidato Presiden Prabowo Subianto, ada satu nama dari zaman Yunani Kuno yang sangat sering beliau sebut. Namanya terdengar unik di telinga kita, kadang netizen salah dengar menjadi “to qi did dis” atau “ju-si-di-dis”. Tokoh yang dimaksud sebenarnya adalah Thucydides, seorang sejarawan dan jenderal terkenal dari masa Yunani Kuno.

Kenapa seorang presiden Indonesia modern begitu sering mengutip pemikir yang hidup ribuan tahun lalu? Jawabannya ada pada satu kalimat legendaris yang pernah ditulis oleh Thucydides:

“The strong do what they can, and the weak suffer what they must.” (Yang kuat akan melakukan apa saja yang mereka bisa, dan yang lemah harus menderita apa yang harus mereka tanggung).

Dalam bahasa yang lebih blak-blakan, kutipan ini berarti: Di dunia ini, yang kuat akan menindas, dan yang lemah mau tidak mau harus bersedia ditindas.

Sejarah di Balik Kalimat “Kejam” Ini

Kalimat ini lahir dari catatan Thucydides tentang Perang Peloponnesos antara Athena dan Sparta. Pada suatu momen, Athena yang sangat kuat mendatangi sebuah pulau kecil bernama Melos. Athena meminta Melos tunduk dan membayar upeti.

Melos menolak dan meminta keadilan secara moral. Namun, Athena menjawab dengan dingin bahwa dalam politik dunia nyata, moralitas dan keadilan hanya berlaku jika kedua belah pihak sama-sama kuat. Jika satu pihak lemah, maka pihak yang kuatlah yang menentukan aturan mainnya. Akhirnya, pulau Melos dihancurkan.

Realitas pahit inilah yang disebut sebagai teori realisme dalam hubungan internasional.

Kenapa Prabowo Sering Membahas Ini?

Presiden Prabowo tidak sedang mengajak kita untuk menjadi bangsa yang kejam atau suka menindas negara lain. Sebaliknya, beliau menggunakan “Doktrin Thucydides” ini sebagai alarm pengingat yang keras bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pesan utamanya adalah kita tidak boleh naif. Di panggung dunia, hukum internasional atau rasa kasihan antarnegara sering kali kalah oleh kepentingan negara-negara adidaya yang punya kekuatan militer dan ekonomi raksasa.

Jika Indonesia ingin tetap merdeka secara utuh, menjaga kekayaan alamnya agar tidak dikeruk asing, dan dihormati di forum internasional, maka Indonesia tidak punya pilihan lain: kita harus menjadi bangsa yang kuat.

Bagaimana Cara Kita Menjadi Kuat?

Kuat di masa kini tidak melulu soal punya banyak senjata perang. Kuat yang dimaksud dalam konteks bernegara mencakup banyak hal:

  1. Kuat Ekonomi: Kita harus bisa mengolah kekayaan alam sendiri (hilirisasi) agar punya nilai jual tinggi, bukan cuma mengekspor bahan mentah.

  2. Kuat Pangan dan Energi: Sebuah negara tidak bisa disetir negara lain jika mereka bisa memberi makan rakyatnya sendiri dan punya sumber energi mandiri.

  3. Kuat Sumber Daya Manusia (SDM): Generasi mudanya harus pintar, menguasai teknologi, dan sehat.

Kesimpulannya, kutipan Thucydides yang sering dibawa Presiden Prabowo adalah sebuah kenyataan pahit tentang cara kerja dunia. Intinya sederhana: dunia ini keras, dan sejarah selalu berpihak pada yang kuat. Agar Indonesia tidak menjadi korban penindasan di masa depan, kita semua harus bekerja keras untuk membangun bangsa ini menjadi bangsa yang mandiri dan disegani.

Leave a Comment