Hari ini kita akan membedah salah satu konsep paling mendasar dalam ekonomi makro, yaitu Marginal Propensity to Consume (MPC), atau dalam bahasa Indonesia sering disebut Kecenderungan Mengonsumsi Marjinal.

Jangan tumpuk dulu kening kalian mendengar istilahnya yang agak mentereng ini. Sederhananya, MPC ini menjawab pertanyaan yang sangat manusiawi: “Kalau kamu dapat tambahan uang satu rupiah, berapa sen yang akan kamu belanjakan, dan berapa sen yang akan kamu tabung?”

Mari kita bedah kata per kata agar kalian tidak sekadar menghafal.

Kata pertama adalah Marginal. Dalam ilmu ekonomi, setiap kali kalian mendengar kata “marginal”, artinya kita sedang berbicara tentang perubahan di batas tepi—sebuah tambahan. Jadi, ini bukan tentang total pendapatan kalian seumur hidup, melainkan tentang tambahan pendapatan yang baru saja kalian terima.

Kata kedua dan ketiga, Propensity to Consume, artinya kecenderungan atau hasrat untuk mengonsumsi (berbelanja).

Secara matematis—tenang, ini matematika sederhana, jangan alergi dulu—rumus untuk mencari MPC adalah:

MPC = Perubahan Konsumsi / Perubahan Pendapatan

Atau jika disingkat menggunakan simbol ekonomi menjadi:

MPC = delta C / delta Y

Simbol “delta” (atau lambang segitiga) itu artinya perubahan. Jadi, MPC adalah perubahan konsumsi dibagi dengan perubahan pendapatan.

Mari Kita Masuk ke Ilustrasi Nyata

Bayangkan salah satu dari kalian, katakanlah Budi. Budi biasanya mendapat uang saku Rp1.000.000 per bulan. Bulan ini, karena prestasinya bagus, ayahnya memberikan bonus tambahan sebesar Rp200.000. Artinya, perubahan pendapatan Budi adalah Rp200.000.

Dari uang tambahan Rp200.000 itu, Budi memakai Rp150.000 untuk beli buku baru dan kopi, lalu sisanya yang Rp50.000 dia masukkan ke celengan. Artinya, perubahan konsumsi Budi adalah Rp150.000.

Sekarang mari kita hitung MPC Budi menggunakan rumus tadi:

  • MPC = Rp150.000 / Rp200.000

  • MPC = 0,75

Apa artinya angka 0,75 ini? Artinya, Budi cenderung menghabiskan 75% dari setiap tambahan pendapatan yang dia terima untuk konsumsi, dan menyisakan 25% sisanya untuk ditabung. Bagian yang ditabung ini dalam ekonomi disebut Marginal Propensity to Save (MPS). Nilai MPC ditambah MPS harus selalu sama dengan 1 (atau 100%).

Mengapa Konsep Ini Penting bagi Negara?

Nah, sekarang tarik pemikiran kalian dari skala individu seperti Budi ke skala negara. Mengapa menteri keuangan atau presiden sangat pusing memikirkan angka MPC masyarakatnya?

Sebab, MPC menentukan efektivitas dari sebuah kebijakan ekonomi. Misalnya, saat pemerintah membagikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebesar Rp1 triliun kepada masyarakat kelas bawah. Masyarakat kelas bawah umumnya memiliki MPC yang sangat tinggi, bisa mencapai 0,9 atau bahkan mendekati 1. Kenapa? Karena mereka punya banyak kebutuhan mendesak yang belum terpenuhi.

Jika uang Rp1 triliun itu turun ke masyarakat dengan MPC 0,9, maka Rp900 miliar akan langsung dibelanjakan ke warung, pasar, dan toko ritel. Uang ini menjadi pendapatan bagi pemilik warung. Pemilik warung yang menerima uang itu akan membelanjakannya lagi ke agen, begitu seterusnya. Ini yang kita sebut sebagai Multiplier Effect (Efek Pengganda). Ekonomi pun berputar kencang.

Bayangkan jika stimulus itu diberikan kepada orang super kaya yang MPC-nya rendah (misalnya hanya 0,1). Tambahan uang itu hanya akan mengendap di rekening bank mereka, dan ekonomi tidak akan bergerak ke mana-mana.

Leave a Comment