Ada pemandangan yang tampak bertolak belakang dalam perekonomian Indonesia saat ini. Di satu sisi, PDB Riil kita tumbuh membanggakan di angka 5,61% — terbaik di G20. Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih bergerak di kisaran Rp17.361 hingga Rp17.424 per dolar AS dalam beberapa hari terakhir. Bagaimana bisa ekonomi tumbuh kuat, tetapi mata uang kita justru tertekan?
Paradoks yang Sebenarnya Bisa Dijelaskan
Pertama, penting untuk memahami bahwa nilai tukar tidak semata-mata mencerminkan kekuatan ekonomi domestik. Rupiah adalah mata uang yang diperdagangkan di pasar global, sehingga tekanannya sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar negeri yang sama sekali tidak berhubungan dengan kinerja perekonomian kita.
Pelemahan rupiah saat ini dinilai karena perebutan kendali atas Selat Hormuz antara Amerika Serikat dengan Iran, yang secara efektif menghancurkan gencatan senjata yang rapuh dan meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan yang berkepanjangan. Ketegangan geopolitik ini mendorong harga minyak naik, memperkuat dolar AS, dan menekan hampir seluruh mata uang negara berkembang — bukan hanya rupiah.
Bank Indonesia menegaskan pergerakan rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya — Philippine Peso melemah 6,58%, Thailand Baht melemah 5,04%, India Rupee melemah 4,32%, sementara rupiah hanya melemah 3,65%. Artinya, rupiah justru lebih tangguh dibanding banyak negara tetangga.
Rupiah “Undervalue”: Murah tapi Bukan Lemah Fundamental
Gubernur Bank Indonesia menjelaskan bahwa kondisi rupiah saat ini bersifat undervalue — harganya lebih murah dari yang seharusnya jika melihat kuatnya fondasi ekonomi kita. Penguatan dolar AS mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS lebih tinggi, sehingga menekan mata uang negara berkembang yang tidak memberikan imbal hasil setara.
Ini adalah fenomena klasik: ketika Amerika menaikkan suku bunga, modal global cenderung mengalir ke sana mencari imbal hasil lebih tinggi, meninggalkan mata uang negara berkembang tertekan sementara.
Dampak Nyata ke Rakyat: Di Sinilah PDB Riil Terasa Kurang
Inilah titik kritis yang perlu dicermati. Meskipun PDB Riil tumbuh 5,61%, pelemahan rupiah yang dalam memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat:
- Harga barang impor naik — bahan baku industri, elektronik, hingga bahan pangan tertentu menjadi lebih mahal
- Inflasi bisa merangkak naik kembali jika rupiah tidak segera menguat
- Daya beli riil tergerus — meski pendapatan nominal tidak berubah, harga-harga yang naik akibat kurs membuat masyarakat merasa semakin berat
Di sinilah kita kembali ke konsep PDB Riil vs PDB Nominal. Pertumbuhan 5,61% adalah angka yang sudah disesuaikan inflasi domestik — namun tekanan kurs dan inflasi impor yang menyusul bisa menggerus daya beli masyarakat di bulan-bulan ke depan.
Apa yang Sedang Dilakukan?
Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya. Selain itu, pemerintah juga mempertegas aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) di mana mulai 1 Juni 2026, pengusaha sektor sumber daya alam wajib mengonversi 50% hasil ekspornya ke rupiah — langkah strategis untuk menambah pasokan dolar dalam negeri.
Kesimpulan: Dua Sisi Mata Uang yang Sama
Pertumbuhan PDB Riil 5,61% adalah bukti nyata bahwa mesin ekonomi Indonesia berjalan. Namun tekanan kurs di level Rp17.400-an adalah pengingat bahwa ekonomi kita tidak berdiri di ruang hampa — ia terkoneksi dengan dinamika global yang kadang di luar kendali kita.
Yang terpenting, fondasi kita kuat. Tantangannya adalah menjaga agar kekuatan fondasi itu tidak tergerus oleh gejolak eksternal yang datang bertubi-tubi.
Ekonomi yang sehat bukan hanya soal tumbuh — tetapi soal bertahan dan tangguh di tengah badai.

