Jumat lalu, 16 Oktober 2026, kita semua jadi saksi mata. IHSG anjlok gila-gilaan, minus 11,57%! Pemicunya jelas: MSCI yang mengancam menurunkan peringkat pasar saham kita dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Di tengah kepanikan pasar, banyak beredar kabar burung di media sosial yang mengaitkan kejatuhan saham ini dengan program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Koperasi Desa (Kopdes). Mari kita luruskan di awal: Tidak ada hubungan sama sekali antara anjloknya IHSG dengan program MBG maupun Kopdes. Pasar saham turun karena isu tata kelola dan transparansi pasar modal, bukan karena program pemberdayaan desa atau gizi anak.
Lalu, bagaimana cara kita membuktikan secara ilmiah bahwa MSCI adalah penyebabnya, dan bukan program pemerintah? Di sinilah metode statistik bernama Event Study (Studi Peristiwa) bekerja.
Logika “Bu Guru” dan Nilai Ujian Budi Untuk paham Event Study, bayangkan Budi, siswa yang rata-rata nilai ujiannya selalu 80. Suatu hari, nilainya anjlok jadi 40.
Budi beralasan, “Soalnya susah banget, Bu! Teman-teman sekelas juga pada jelek.” (Ini ibarat menyalahkan kondisi global).
Tapi Bu Guru tidak langsung percaya. Ia mengecek nilai rata-rata kelas hari itu. Ternyata, rata-rata kelas hanya turun dari 80 jadi 75.
Berarti, faktor “soal susah” hanya menyumbang penurunan 5 poin. Sisa 35 poin lainnya? Itu murni karena Budi sakit atau tidak belajar (faktor spesifik). Nah, Event Study adalah cara statistik untuk memisahkan “efek soal susah” dari “efek Budi sakit”.
Membedah Crash IHSG Mari kita terapkan “logika Bu Guru” ini ke IHSG pada 16 Oktober kemarin.
  1. Mencari Nilai Normal (Expected Return): Berdasarkan data historis, jika indeks global turun sedikit, IHSG yang normalnya akan turun sekitar -1,2%. Ini adalah “nilai rata-rata kelas”.
  2. Mencari Nilai Aktual (Actual Return): Kenyataannya di lapangan, IHSG hancur lebur minus 11,57%.
  3. Menghitung Dampak Murni (Abnormal Return): Kita kurangi nilai aktual dengan nilai normal. -11,57% (Aktual) – (-1,2% Normal) = -10,37%.
Angka -10,37% ini adalah Abnormal Return. Inilah kehancuran murni yang disebabkan oleh berita MSCI, di luar faktor pasar global. Secara statistik, terbukti bahwa MSCI adalah “Budi yang sedang sakit”.
Lalu, Apa Hubungannya dengan MBG dan Kopdes? Tidak ada hubungan kausal antara IHSG dan MBG/Kopdes. Namun, metode Event Study ini sebenarnya sangat berguna untuk mengukur keberhasilan program pemerintah tersebut di bidangnya masing-masing!
Misalnya, kita ingin tahu apakah Kopdes benar-benar menaikkan pendapatan warga. Kita bandingkan pendapatan desa sebelum dan sesudah ada Kopdes, sambil mengontrol faktor lain (seperti harga panen yang kebetulan naik). Event Study akan memisahkan: berapa persen kenaikan murni karena Kopdes, dan berapa persen karena faktor eksternal.
Kesimpulan Statistik mengajarkan kita untuk tidak mudah terprovokasi narasi. Kalau pasar saham hancur, lihat datanya (MSCI). Kalau mau ukur keberhasilan MBG atau Kopdes, pakai datanya juga di sektor riil. Jangan dicampuradukkan!

Leave a Comment