Di era digital seperti sekarang, kebiasaan belanja masyarakat mengalami banyak perubahan. Tidak hanya cara membeli yang berubah, tetapi juga perilaku konsumen. Salah satu fenomena unik yang belakangan ramai dibicarakan adalah istilah “Rojali” dan “Rohana”. Meski terdengar seperti nama orang, sebenarnya ini singkatan dari kebiasaan belanja yang cukup umum terjadi, baik di pusat perbelanjaan maupun di toko online.
Apa itu Rojali dan Rohana?
-
Rojali merupakan singkatan dari Rombongan Jarang Beli. Ini menggambarkan sekelompok orang yang suka datang ke pusat perbelanjaan, melihat-lihat produk, mencoba, bahkan bertanya banyak hal, tetapi akhirnya tidak jadi membeli apa pun.
-
Rohana adalah Rombongan Hanya Tanya. Mereka aktif bertanya detail produk, menanyakan harga, warna, ukuran, dan ketersediaan, tapi hanya untuk membandingkan, bukan untuk membeli saat itu juga.
Fenomena ini dulunya banyak terjadi di mal atau toko fisik. Tapi sekarang, perilaku yang sama juga muncul di dunia belanja online. Banyak orang rajin membuka aplikasi belanja, memasukkan barang ke keranjang, membaca ulasan, membandingkan harga antar toko, bahkan chat ke penjual—namun tak kunjung menyelesaikan transaksi.
Kenapa Rojali dan Rohana Makin Banyak?
Ada beberapa alasan mengapa fenomena ini makin sering kita temui:
-
Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih membuat banyak orang lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang.
-
Konsumen cerdas yang tidak mau langsung beli sebelum membandingkan harga atau menunggu diskon.
-
Belanja sebagai hiburan—banyak orang berselancar di e-commerce hanya untuk mengisi waktu luang atau melepas stres, bukan benar-benar ingin belanja.
Apa Dampaknya?
Bagi konsumen, fenomena ini bisa dianggap hal biasa. Tapi bagi penjual, terutama UMKM dan toko online kecil, ini bisa menjadi tantangan. Mereka perlu membalas banyak chat atau menyiapkan informasi produk, tapi akhirnya tidak ada transaksi. Ini tentu menyita waktu dan tenaga.
Namun di sisi lain, fenomena Rojali dan Rohana juga menunjukkan bahwa masyarakat kini lebih cermat dan selektif. Mereka tidak mudah tergiur, dan justru menunjukkan bahwa perilaku konsumen semakin matang.
Apa Solusinya?
Bagi pelaku usaha, penting untuk menyikapi fenomena ini dengan bijak. Berikut beberapa tips:
-
Tampilkan informasi produk yang lengkap agar konsumen tak perlu banyak bertanya.
-
Sediakan promo menarik atau sistem reminder untuk menarik pembeli yang sudah memasukkan barang ke keranjang.
-
Bangun hubungan baik dengan calon pembeli, meski belum jadi beli hari ini, bisa jadi mereka kembali lain waktu.
Kesimpulan
Fenomena Rojali dan Rohana adalah bagian dari perilaku konsumen modern. Alih-alih dianggap negatif, ini bisa menjadi peluang bagi pelaku usaha untuk lebih memahami kebutuhan dan pola pikir calon pembeli. Dengan pendekatan yang tepat, siapa tahu Rojali hari ini bisa jadi pelanggan setia besok!

