Banyak orang beranggapan bahwa gaji besar adalah solusi utama untuk hidup sejahtera. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Terutama bagi para pria yang tinggal di kota besar, gaji tinggi belum tentu menjamin kecukupan hidup. Mengapa hal ini bisa terjadi? Berikut penjelasannya.

1. Biaya Hidup Tinggi

Kehidupan di kota besar identik dengan biaya hidup yang mahal. Mulai dari sewa tempat tinggal, makanan, transportasi, hingga pendidikan anak, semua membutuhkan anggaran yang besar. Meski gaji naik, harga kebutuhan pokok pun ikut meningkat. Hal ini membuat daya beli masyarakat tetap tertekan, terutama bagi mereka yang menjadi tulang punggung keluarga.

2. Tingginya Angka Pengangguran Pria

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa tingkat pengangguran pria di kota meningkat dari 5,87% pada Agustus 2024 menjadi 6,06% pada Februari 2025. Kondisi ini menunjukkan bahwa semakin banyak pria yang kesulitan mendapatkan pekerjaan, terutama di sektor formal yang sebelumnya menjadi andalan, seperti industri dan konstruksi.

3. Kesenjangan Partisipasi Kerja

Tingkat partisipasi angkatan kerja pria di perkotaan mencapai sekitar 83%, jauh lebih tinggi dibanding perempuan yang hanya sekitar 56%. Ini berarti lebih banyak pria yang aktif mencari kerja, namun jumlah lapangan kerja yang tersedia tidak sebanding. Akibatnya, pengangguran pria lebih terasa dan berisiko menimbulkan tekanan ekonomi dalam rumah tangga.

4. Ekspektasi Sosial dan Kesenjangan Keterampilan

Banyak pria masih memiliki ekspektasi tinggi terhadap jenis pekerjaan yang diinginkan, seperti posisi tetap dengan gaji besar dan status sosial yang baik. Sayangnya, tidak semua pekerjaan di kota mampu memenuhi harapan tersebut. Di sisi lain, perkembangan teknologi dan digitalisasi membuat banyak jenis pekerjaan baru muncul, namun belum sepenuhnya bisa diisi oleh pencari kerja yang belum memiliki keterampilan yang relevan.

5. Dampak Sosial dan Ekonomi

Tingginya angka pengangguran dan tekanan ekonomi berdampak besar terhadap kualitas hidup. Tidak sedikit pria yang merasa gagal, tertekan, bahkan mengalami gangguan mental akibat tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Ketimpangan ini juga bisa memperlebar jurang sosial di perkotaan dan meningkatkan angka kemiskinan.

6. Solusi yang Bisa Ditempuh

Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam mengatasi persoalan ini. Dibutuhkan kebijakan yang mendukung penciptaan lapangan kerja baru, penyederhanaan birokrasi investasi, serta pelatihan keterampilan kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri saat ini. Pelatihan digital, kewirausahaan, dan kemampuan teknis lainnya dapat menjadi jembatan bagi pencari kerja pria untuk kembali produktif.


Kesimpulan

Gaji besar bukanlah satu-satunya ukuran kesejahteraan. Jika biaya hidup terlalu tinggi, pekerjaan sulit didapat, dan keterampilan tidak relevan, maka pendapatan besar pun tetap terasa tidak cukup. Sudah saatnya kita membangun ekosistem kerja yang lebih inklusif, adaptif, dan mendukung pertumbuhan keterampilan, agar semua lapisan masyarakat—terutama pria di perkotaan—dapat hidup lebih sejahtera dan bermakna.

Leave a Comment